Umat Buddha menerima pandangan
Semesta bahwa waktu tidaklah linear tetapi melingkar. Akibatnya, Alam Semesta
tidak diciptakan dari ketiadaan pada titik tertentu, juga tidak akan hancur
pada yang lain. Itu selalu ada dan akan selalu ada. Sementara itu,
bagaimanapun, ia melewati siklus penciptaan dan kehancuran yang tak ada habisnya,
penciptaan dan kehancuran, berulang kali. Semua makhluk yang dilahirkan ke
dalam siklus alam semesta ini adalah sebab dari akibat atau perbuatan
sebelumnya (Karma). Ini adalah penciptaan sebab akibat.
Pada gilirannya, ketika ada
yang meninggal, baik manusia maupun hewan, menciptakan penyebab kelahiran
makhluk baru. Hal ini tidak dapat sepenuhnya disebut sebagai reinkarnasi atau
transmigrasi, karena yang berpindah bukanlah dari tubuh ke tubuh atau melalui
proses perpindahan waktu. Kata yang tepat untuk menggambarkan proses ini adalah
kelahiran kembali. Kelahiran kembali adalah siklus yang tak berujung dan tak
terkendali melalui berbagai situasi yang sebagian besar tidak menyenangkan. Nah,
terkait tidak menyanangkan Sang Buddha memberikan jalan salah satunya melalui
melakukan banyak kebajikan agar terlahir kembali sesuai harapan atau mendapatkan
berkah dari kebajikan.
Dalam Manggala Sutta diajarkan
oleh sang Buddha mengenai hal apa yang sebenarnya menjadi berkah utama (maṅgalāni)
di dunia ini. Ketika itu beliau berada di Vihara Jetavana untuk menjawab
pertanyaan seorang Dewa.
Sutta ini menjelaskan tentang
38 berkah utama yang ada dalam kehidupan ini. Sutta ini pun biasanya selalu
dibaca ketika pembacaan paritta dan diyakini bahwa menuliskan sutta ini pada
sebuah buku merupakan suatu bentuk kebajikan.
Di dalam Sutta ini dikatakan:
demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika sang Bhagava menetap di dekat
kota Savatthi, di wilayah Jetavana, di wihara Anathapindika. Di saat itu,
datanglah dewa, ketika hari menjelang pagi, dengan cahaya yang cemerlang
menerangi seluruh wilayah Jetavana, mengunjungi sang Bhagava. Dan menghormati
beliau, lalu berdiri di satu sisi. Sambil berdiri di satu sisi, dewa itu
berkata kepada sang Bhagava dengan syair :
Banyak dewa dan manusia
berselisih paham tentang berkah, yang diharapkan membawa keselamatan, maka
mohon terangkanlah, apa berkah utama itu?
Tak bergaul dengan orang-orang
yang tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana, dan menghormati yang
patut dihormati, Itulah Berkah Utama
Bertempat tinggal di tempat
yang sesuai, memiliki timbunan kebajikan di masa lampau, dan membimbing diri ke
arah yang benar, Itulah Berkah Utama
Berpengetahuan luas, berketerampilan,
terlatih baik dalam tata susila, dan bertutur kata dengan baik, Itulah Berkah
Utama
Membantu ayah dan ibu,
Menyokong anak dan isteri, dan bekerja dengan sungguh-sungguh, Itulah Berkah
Utama
Berdana, dan hidup sesuai
dengan Dhamma, menolong sanak saudara dan kerabat, dan tidak melakukan pekerjaan
tercela, Itulah Berkah Utama
Menjauhi, menghindari
perbuatan buruk, menahan diri dari minuman keras, dan tak lengah melaksanakan
Dhamma, Itulah Berkah Utama
Selalu memiliki rasa hormat,
dan rendah hati, merasa puas dan bersyukur dengan yang dimiliki, dan
mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai, Itulah Berkah Utama
Sabar, rendah hati bila
dinasihati, mengunjungi para petapa, dan membahas Dhamma pada waktu yang tepat,
Itulah Berkah Utama
Bersemangat dalam mengikis
kotoran batin, menjalankan hidup suci, menembus Empat Kebenaran Mulia, dan
mencapai Nibbana, Itulah Berkah Utama
Meski digoda oleh hal-hal
duniawi, namun batin tak tergoyahkan, tiada sedih, tanpa noda, dan penuh damai,
Itulah Berkah Utama
Karena dengan melaksanakan hal-hal seperti itu, para dewa dan manusia tak akan terkalahkan di mana pun, serta mencapai kebahagiaan di mana pun berada, Inilah Berkah Utama bagi para dewa dan manusia. Berkah ini haruslah menjadi perhatian untuk dipraktekan agar mendapatkan manfaatnya.
Semoga bermanfaat
Berikut adalah poin-poin penting 38 Berkah
Utama:
- Menghindari Pergaulan dengan Orang Bodoh (tidak bijak).
- Bergaul dengan Orang Bijaksana.
- Menghormati yang Patut Dihormati (orang tua, guru, Buddha).
- Tinggal di Lingkungan yang Sesuai.
- Telah Banyak Berbuat Baik di Masa Lalu.
- Menuntun Diri ke Jalan yang Benar.
- Berpengetahuan Luas.
- Memiliki Keterampilan/Keahlian (teknik/profesi).
- Disiplin Diri (tata susila/Sila).
- Ucapan yang Sopan dan Benar.
- Merawat Orang Tua (berbakti).
- Menyayangi Istri/Suami dan Anak.
- Pekerjaan yang Tidak Tercela (mata pencaharian benar).
- Berdana (memberi/beramal).
- Hidup Berdasarkan Dhamma (sesuai ajaran).
- Membantu Sanak Keluarga.
- Perbuatan yang Tidak Tercela (tidak melanggar Sila).
- Menghindari Perbuatan Buruk (Pāpā).
- Menghindari Minuman Keras (dan hal yang memabukkan).
- Tekun Melaksanakan Dhamma (tidak lalai).
- Rasa Hormat (tidak sombong).
- Berendah Hati.
- Merasa Puas (Santuṭṭhi).
- Mengingat Budi Baik Orang Lain (Gratitude).
- Mendengarkan Dhamma pada Waktu yang Sesuai.
- Sabar (Khantī).
- Mudah Dinasehati/Tegur.
- Mengunjungi Para Petapa (guru spiritual).
- Membahas Dhamma pada Waktu yang Sesuai.
- Hidup Suci (Brahmacariya).
- Menembus Empat Kebenaran Mulia.
- Mencapai Nibbana (tujuan akhir).
- Batin Tak Tergoyahkan oleh Hal Duniawi (8 Dhamma Duniawi).
- Tiada Sedih.
- Tanpa Noda (batin bersih).
- Penuh Damai (Aroga).
- Tak Terkalahkan di Mana pun.
- Mencapai Kebahagiaan di Mana pun.
Menurut ajaran ini, siapa pun yang
mempraktikkan 38 berkah ini akan mencapai kemajuan dalam hidupnya, baik secara
materi maupun spiritual, dan hidup mereka tidak akan sia-sia.

